
MERDEKA!!!!!!
Mungkin kata tersebut yang sering kita dengar beberapa hari terakhir ini karena kemarin tepatnya tanggal 17 Agustus 2008 bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang genap berusia 63 tahun. Tapi hingga kini saya masih belum menemukan arti dari keMERDEKAan itu sendiri. Jawaban banyak orang tentang arti dari kata MERDEKA masih belum membuat saya puas. Saya masih bertanya-tanya apakah arti keMERDEKAan pada jaman sekarang masih sama dengan jaman dahulu? Apakah arti MERDEKA yang dipahami para pejuang kemerdekaan '45 masih sama dengan apa yang kita pahami saat ini? Memang arti dari kata MERDEKA adalah lepas dari penjajahan atau lepas dari genggaman para penjajah, tapi untuk penjajahan seperti apa? Dan yang terpenting adalah APAKAH KITA SUDAH BENAR-BENAR MERDEKA???
Pada tanggal 16 Agustus kemarin saya menonton acara di televisi yang menyorot kehidupan para pejuang kemerdekaan tahun '45. Saat saya melihat acara tersebut sangat ironi sekali, bagaimana bisa para pejuang yang sudah bersusah payah memerdekakan bangsa ini malah sekarang hidup menderita? Dimanakah hati nurani pemerintah Indonesia melihat nasib para pejuang kemerdekaan itu. Dari berbagai cerita di acara tersebut ada seorang pejuang yang tidak mendapat uang pensiun veteran hanya karena dia tidak sanggup memenuhi satu syarat yang diajukan oleh pemerintah yaitu mereka harus menemui/mencari komandan pasukan mereka saat menjadi prajurit sebagai bukti mereka adalah pejuang '45 padahal mereka sendiri tidak tahu apakah komandan mereka telah meninggal atau masih hidup dan apakah pencarian itu sendiri tidak memerlukan biaya yang besar, akhirnya mereka pasrah tidak mendapat uang pensiun veteran hanya karena mereka tidak dapat menemukan komandan mereka. Dan yang paling ironis sekali adalah ada salah satu pejuang yang menjadi saksi hidup pembacaan proklamasi kemerdekaan tapi sekarang beliau hidup terlunta-lunta di pinggir rel kereta api dan yang paling parah adalah terdengar kabar yang menyatakan akan adanya penggusuran rumah di tempat itu. Apakah para pejuang veteran itu sudah menikmati keMERDEKAan yang selama ini mereka perjuangkan dengan susah payah?
Mungkin kita tidak boleh mempersalahkan siapa-siapa untuk hal ini, tapi cobalah kita sebagai generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan para pejuang dengan mengharumkan nama bangsa di dunia, kita harusnya bersyukur karena kita tidak perlu susah payah untuk menikmati kemerdekaan ini. Setiap tahun kita selalu mendengar kata-kata "kita sebagai generasi muda harus mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif" tetapi pada kenyataannya masih jauh dari yang diharapkan. Masih banyak kasus narkoba yang melibatkan remaja, kasus video porno remaja bahkan tawuran remaja masih terjadi. Mungkin lebih baik kita belum merdeka dulu supaya kita bisa merasakan kesusahan para pejuang untuk merebut kemerdekaan dan kita bisa lebih bersyukur atas kemerdekaan ini. Tetapi seburuk apapun, sebobrok apapun bangsa ini, kita harus bangga menjadi Bangsa Indonesia. Kita jangan mau dikatakan bangsa yang bobrok, kita harus memperbaiki kebobrokan itu.
Terakhir saya hanya mau mengucapkan DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-63 SEMOGA JAYA SELALU DAN TERLEPAS DARI SEGALA MACAM PENJAJAHAN. MERDEKA!!!!!!!!!!
Peluang Investasi
(kita ini) MERDEKA atau MATI ???
Senin, Agustus 18, 2008
Diposting oleh Japro di Senin, Agustus 18, 2008 1 komentar
Label: 17 agustus., artikel, berita, blog, informasi, lain-lain, sejarah
Museum
Senin, April 21, 2008

Museum, berdasarkan definisi yang diberikan International Council of Museums, adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengkomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Karena itu ia bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis, dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan pemikiran imajinatif di masa depan.
Secara etimologis, museum berasal dari kata Yunani, mouseion, yang sebenarnya merujuk kepada nama kuil pemujaan terhadap Muses, dewa yang berhubungan dengan kegiatan seni. Bangunan lain yang diketahui berhubungan dengan sejarah museum adalah bagian kompleks perpustakaan yang dibangun khusus untuk seni dan sains, terutama filosofi dan riset di Alexandria oleh Ptolemy I Soter pada tahun 280 SM. Museum berkembang seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan manusia semakin membutuhkan bukti-bukti otentik mengenai catatan sejarah kebudayaan. Museion merupakan sebuah bangunan tempat suci untuk memuja Sembilan Dewi Seni dan llmu Pengetahuan. Salah satu dari sembilan Dewi tersebut ialah: MOUSE, yang lahir dari maha Dewa Zous dengan isterinya Mnemosyne.Dewa dan Dewi tersebut bersemayam di Pegunungan Olympus. Museion selain tempat suci, pada waktu itu juga untuk berkumpul para cendekiawan yang mempelajari serta menyelidiki berbagai ilmu pengetahuan, juga sebagai tempat pemujaan Dewa Dewi.
Pengertian Museum dewasa ini adalah:"Sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan pengembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya". (Definisi menurut ICOM = International Council of Museeum / Organisasi Permuseuman Internasional dibawah Unesco). Museum merupakan suatu badan yang mempunyai tugas dan kegiatan untuk memamerkan dan menerbitkan hasil-hasil penelitian dan pengetahuan tentang benda-benda yang penting bagi Kebudayaan dan llmu Pengetahuan.
Musem mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Pusat Dokumentasi dan Penelitian llmiah
2. Pusat penyaluran ilmu untuk umum
3. Pusat penikmatan karya seni
4. Pusat perkenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa
5. Obyek wisata 6. Media pembinaan pendidikan kesenian dan llmu Pengetahuan
7. Suaka Alam dan Suaka Budaya
8. Cermin sejarah manusia, alam dan kebudayaan
9. Sarana untuk bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan YME.
Di Indonesia, museum yang pertama kali dibangun adalah Museum Radya Pustaka. Selain itu dikenal pula Museum Gajah yang dikenal sebagai yang terlengkap koleksinya di Indonesia, Museum Wayang, Persada Soekarno, Museum Tekstil serta Galeri Nasional Indonesia yang khusus menyajikan koleksi seni rupa modern Indonesia.
Diposting oleh Japro di Senin, April 21, 2008 0 komentar
Label: artikel, berita, media massa, museum, pendidikan, sejarah
Straight Edge
Kamis, April 10, 2008

A. Sejarah Pergerakan Straight Edge
Straight Edge adalah sebuah paham positif yang muncul pada pertengahan tahun 80-an di Amerika Serikat dengan slogan “Don’t Smoke, Don’t Drink, Don’t Do Drugs”. Pergerakan Straight Edge muncul sebagai suatu bentuk keprihatinan terhadap situasi yang terjadi di dalam komunitas Punk Rock di Washington DC, Amerika Serikat yang pada saat itu semakin hanyut kedalam attitude negatif dengan slogan “No Future”. Gaya hidup tidak sehat yang dilakukan oleh Punk Rock-ers di Amerika Serikat yang dianggap sudah terdistorsi dan terstandarisasi membuat sekelompok Punk Rock-ers memilih gaya hidup yang berbeda dari tipikal counter culture lain.
Istilah “Straight Edge” atau sXe yang menjadi identitas komunitas yang memilih untuk hidup dengan cara yang berbeda, berasal dari sebuah lagu anthem milik sebuah grup band Punk Rock Minor Threat yang kemudian menjadi influence bagi counter culture Punk Rock sampai sekarang. Lirik lagu tersebut mewakili banyak anak muda yang memang tidak tertarik untuk menjadi tipikal Punk Rock-ers saat itu. Pergerakan ini kemudian mulai meluas dan mendunia. Lambang X di tangan yang semula merupakan penanda bagi anak dibawah umur dan tidak boleh membeli minuman beralkohol menjadi simbol universal pergerakan Straight Edge.
Pada perkembangan selanjutnya, pergerakan sXe menambahkan beberapa “norma” baru dalam paham sXe yaitu “Pro-Life, No Free Sex, Environmentalism, and Animal Rights”. Filosofi tambahan ini sering diwujudkan melalui vegetarianisme atau veganisme. Namun, masalah yang sering diangkat sebagai pendukung pergerakan ini adalah masalah animal rights.
B. Pergerakan Straight Edge di Yogyakarta
Di Indonesia, paham sXe masuk melalui newsletter, zine maupun musik yang dibawakan oleh grup-grup band penganut sXe. Pergerakan sXe disini juga mempengaruhi banyak anak muda untuk mengikuti gaya hidup positif. Straight Edge kemudian menjadi pergerakan yang lebih personal dan menjadi alternatif life style dalam sebuah sub kultur anak muda.
Sama halnya dengan pergerakan sXe yang terdapat di kota-kota lain di Indonesia, hidup dengan cara positif telah membuat sebagian besar remaja Yogyakarta tertarik menjadi anggota komunitas sXe-ers. Seperti pada salah seorang anggota sXe yang menjadi nara sumber, dia mengikuti gaya hidup sXe karena tertarik dengan life style positif yang ditawarkan oleh pergerakan ini. Selain itu, sebelum menjadi seorang sXe-ers, dia memang melakukan hal-hal yang menjadi dasar pergerakan sXe yaitu anti rokok, anti minuman keras dan anti obat-obatan terlarang sehingga menjadi bagian dari pergerakan ini tidak mengubah apapun dalam hidupnya namun malah membawa perubahan yang lebih baik bagi hidupnya.
Pada pergerakan sXe di Yogyakarta ini juga terdapat sXe militan. Straight Edge militan ini merupakan sekelompok sXe-ers yang menganut gaya hidup vegan. Hal ini berkaitan erat dengan filosofi tambahan sebagai konsekuensi perkembangan pergerakan sXe yang menambahkan beberapa norma baru selain norma-norma yang telah menjadi standart komunitas sXe. Idealisme untuk mewujudkan kehidupan yang selaras antara manusia dengan lingkungannya telah memunculkan sub kultur baru sebagai pecahan dari pergerakan sXe, yaitu hardline sXe. Kemunculannya yang menimbulkan konflik internal komunitas sXe sering kali bersifat anarkis.
Pengrusakan restoran fast food yang menjual makanan yang mengandung daging, pengeroyokan terhadap remaja yang sedang melakukan pesta yang disertai dengan minuman keras bahkan melepaskan binatang piaraan yang menjadi hak milik orang lain mewarnai kontroversi keberadaan komunitas ini di masyarakat khususnya di dalam komunitas sXe sendiri. Para sXe-ers militan ini dapat dilihat dari pola makannya yang pure vegetarian dan sama sekali tidak mau berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan binatang (misalnya tidak mengkonsumsi telur dan susu, tidak mau memakai ikat pinggang yang terbuat dari kulit serta tidak mau menggunakan barang-barang yang berhubungan dengan binatang).
C. Karakteristik Komunitas
Pada anggota sXe kebanyakan, pengaruh yang didapatkan sehingga menjadi seorang sXe-ers adalah melalui musik. Tidak dapat disangkal bahwa musik telah membawa banyak pengaruh kedalam kehidupan masyarakat, bukan hanya pada komunitas-komunitas tertentu seperti komunitas Punk dan sXe. Sebagian besar anggota sXe adalah pemain musik atau orang yang menyukai musik Hard Core. Berawal dari kegiatan berkumpul dengan sesama penggemar musik Hard Core dan melalui penerbitan newsletter, para remaja yang sama sekali tidak mengenal pergerakan ini kemudian termotivasi untuk menjadi bagian dari pergerakan ini. Hal ini seperti yang telah dikemukakan oleh para nara sumber. Karakteristik komunitas ini juga tidak bersifat eksklusif sehingga orang yang bukan merupakan anggota komunitas sXe tetap diterima dengan baik.
Mengenai alasan pemilihan jenis musik Hard Core sehingga menjadi basis dari pergerakan sXe sendiri tidak lepas dari sejarah pergerakan sXe. Ketidakpuasan para sXe-ers terhadap tipikal Punk-ers pada saat itu membuat komunitas sXe-ers melirik jenis musik Hard Core yang karakteristik komunitasnya terbuka dan tidak terdistorsi oleh gaya hidup tidak sehat. Itu sebabnya komunitas sXe sekarang diidentikkan dengan komunitas Hard Core. Namun, bukan berarti seorang anggota komunitas Hard Core adalah juga merupakan seorang sXe-ers.
Komunitas sXe kemudian menjadi salah satu bagian dari beragam komunitas yang membentuk realitas sosial di kota Yogyakarta. Namun, keberadaan komunitas-komunitas sXe di Yogyakarta hampir tidak terlihat. Tidak seperti komunitas punk. Hal ini disebabkan oleh sikap para sXe-ers yang tidak pernah mengklaim dirinya sebagai seorang sXe. Selain itu, komunitas sXe sendiri tidak mempunyai atribut ataupun simbol khusus yang menjadi pembeda antara komunitas sXe dengan komunitas lain. Baik dari gaya berpakaian maupun perilaku para sXe-ers tidak jauh berbeda dengan remaja kebanyakan. Bila komunitas Punk dapat dikenali dari gaya mereka berpakaian dan sikapnya yang anti sosial, maka para sXe-ers hanya dapat dikenali dari pola hidup mereka yang kebanyakan merupakan vegetarian. Keberadaannya yang kurang terlihat menyebabkan kurangnya komunikasi antar komunitas sXe. Walaupun berada di wilayah yang sama seperti di Yogyakarta, para sXe-ers hanya dapat mengenali sesama anggota komunitas tempat dia berkumpul. Tidak ada interaksi yang terjadi antar komunitas sXe. Bila ada, hal tersebut bersifat personal bukan kolektif.
Membahas interaksi sosial yang terjadi pada komunitas sXe tidak lepas dari fenomena yang terlihat jelas pada realitas sosial yang terjadi di Yogyakarta. Telah menjadi sebuah rahasia umum, bahkan sering ditemukan tidak hanya pada sXe-ers di Yogyakarta ini bahwa pada komunitas sXe dengan komunitas Punk timbul sebuah konflik internal yang tidak jarang melibatkan perkelahian fisik. Namun, di Yogyakarta sendiri anggota dari masing-masing komunitas tersebut saling menghargai. Ketika para sXe-ers mengadakan konser musik underground di Fame Club, Apartemen Sejahtera beberapa waktu yang lalu para Punk-ers yang menonton acara tersebut menghargai idealisme sXe dengan memilih untuk merokok dan minum minuman keras di luar area konser.
D. Eksistensi Komunitas Straight Edge Di Yogyakarta
Karena tidak ada hal-hal khusus yang menjadi penanda para anggota komunitas sXe maka keberadaan komunitas tersebut hanya dapat dilihat dari komunitas sXe itu sendiri. Salah satu komunitas sXe yang keberadaannya cukup lama dan dikenal oleh hampir seluruh sXe-ers di Yogyakarta adalah Positive Foundation. Positive Foundation merupakan sebuah organisasi informal yang didirikan sebagai pengganti Karang Malang Straight,sebuah komunitas sXe yang terdapat di daerah Karang Malang, Yogyakarta. Sampai saat ini jumlah anggota dari Positive Foundation sekitar 15 orang, baik yang aktif maupun non aktif. Tujuan pendirian organisasi ini adalah selain sebagai bentuk pergerakan nyata dari komunitas sXe itu sendiri juga sebagai tempat berkumpul dan bertukar informasi bagi sXe-ers. Dalam kurun waktu setahun setelah pendiriannya, Positive Foundation mulai berkembang dan mendukung kegiatan komunitas sXe di Yogyakarta seperti menerbitkan newsletter bernama ‘BETTER DAY’ yang berisi segala informasi mengenai pergerakan sXe itu sendiri beserta informasi mengenai hal-hal yang menjadi idealisme sXe, seperti gerakan animal welfare, perlindungan terhadap satwa-satwa langka, perlindungan terhadap animal rights, dsb. Selain itu, Positive Foundation juga mengadakan kegiatan bakti sosial di panti asuhan dan mendukung acara-acara musik yang diadakan oleh komunitas sXe Yogyakarta.
Diposting oleh Japro di Kamis, April 10, 2008 0 komentar
Label: artikel, berita, gaya hidup, komunitas, sejarah, straight edge
Sejarah Musik Ska

Untuk mempelajari kita harus memahami tentang sebuah makna dalam perjalanan waktu. Begitu halnya dengan sejarah musik ska.
Adalah Perang Dunia II yang mengubah segalanya. Kekuasaan Inggris terhadap negara-negara jajahannya runtuh sebelum masa PD II & terpecah belah pada saat pertengahan masa peperangan. Inggris memeberikan kemerdekaan kepada negara-negara jajahannya setelah mendapat tekanan dari pemerintahan kolonial. Pada tahun 1962 Jamaika membentuk pemerintahan sendiri meskipun masih tetap sebagai negara persemakmuran. Budaya Jamaika & musiknya mulai terefleksi dalam optimisme baru & aspirasi rakyat yang liberal.
Sejak tahun 40'an Jamaika telah mengadopsi & mengadaptasi berbagai bentuk musik dari Amerika. Pada saat PD II berakhir, begitu banyak band-band di Jamaika yang memainkan musik-musik dansa. Grup seperti Eric Dean Orchestra dengan trombonisnya Don Drummond & master gitarisnya Ernest Ranglin terpengaruh oleh musisi-musisi jazz Amerika seperti Count Bassie, Erskine Hawkins, Duke Ellington, Glenn Miller & Woody Herman. Ditahun 50'an ketenaran band-band jazz di Amerika digantikan oleh grup-grup yang kecil & cenderung lebih memainkan irama bop/rhythm & blues sound. Musisi Jamaika yang sering berkunjung ke Amerika terpengaruh & membawa pola permainan musik tersebut ke daerah asalnya. Band-band local di Jamaika seperti Count Smith The Blues Blaster, Sir Nick The Champ & Tom The Great Sebastian mulai memainkan gaya baru tersebut. Ditahun 1954, pertunjukan terbesar pertama kali diadakan di kota Kingston tepatnya di Ward Theatre. Band-band tradisional yang memainkan irama mento-folk-calypso ikut ambil bagian & sering sekali band-band tersebut mengisi acara di hotel-hotel yang ada di Jamaika & seputar pulau tersebut. Pada akhir tahun 50'an pengaruh-pengaruh jazz, R&B, & mento (sejenis musik calypso) melebur menjadi satu bentuk baru yang dinamakan 'shuffled'. Irama shuffled memperoleh popularitas berkat kerja keras musisi-musisi seperti Neville Esson, Owen Grey, The Overtakers & The Matador Allstars. Banyak studio & perusahaan rekaman yang mengalami perkembangan & terus berusaha untuk mencari talenta-talenta baru.
The Jamaican Broadcasting Corporation pun ikut membangkitkan semangat kepada musisi-musisi muda melalui siaran acara-acara di radio. Dua orang yang amat berpengaruh dalam perkembangan musik di Jamaika pada tahun 50'an adalah Duke Reid & Clement Seymour Dodd. Bersama istrinya, Duke Reid memiliki toko 'Treasure Island Liquor' yang berlokasi di jalan Bond (Bond street). Soundsystem Reid dikenal dengan nama 'The Trojan', diambil dari tulisan yang tertera pada truknya. Truk yang biasa digunakan sebagai angkutan barang untuk tokonya. Dodd menamakan soundsystem miliknya 'Sir Coxsone Downbeat' yang diambil dari nama pemain kriket asal Yorkshire, Coxsone.
Sepanjang akhir dekade, kedua orang tersebut memimpin persaingan dalam bisnis musik. Walaupun Coxsone lebih dekat dengan 'Ghetto'(perkampungan yang didiami kaum atau kelompok tertentu) Adalah Reid yang dianugerahi sebagai 'King of sound & blues' di Success Club (acara penganugerahan) di tahun 1956, 1957, 1958.
Tahun 1962, saat di mana Jamaika sedang gandrung meniru musik-musik Amerika, Cecil Bustamente Campbell yang kemudian dikenal dengan nama 'Prince Buster', tahu bahwa sesuatu yang baru amat dibutuhkan pada saat itu. Ia memiliki seorang gitaris yang bernama Jah Jerry yang kemudian bereksperimen di musik dengan menitikberatkan 'ketukan 'afterbeat' ketimbang 'downbeat'. Hingga pada saat ini ketukan afterbeat menjadi esensi dari singkop (penukaran irama) khas Jamaika. Ska pun lahir. Soundsystem/studio rekaman pun mulai merekam hasil kerja mereka. Dengan tidak memberikan label pada vinyl (piringan hitam) dengan tujuan agar memperolehkeuntungan diantara para pesaingnya. Sehingga yang lain tidak dapat melihat apa yang dimainkan & 'mencuri' untuk sondsystem mereka sendiri.
Perang antar soundsystem pun memuncak hingga pada saat para donatur terancam oleh segerombol orang-orang yang menyebabkan permasalahan. Orang-orang ini dinamakan 'Dance Hall Crashers'. Meskipun fasilitas Mono Recording yang masih primitif, adalah keteguhan hati dari antusiasnya akan musik ska yang memungkinkan untuk menjadi musik komersil dari Jamaika yang pertama kali. Dan kenyataannya ska dikenal sebagai musik dansa rakyat Jamaika.
Sepanjang tahun 60'an wilayah ghetto di Jamaika dipenuhi oleh pemuda-pemuda yang mencari pekerjaan. Pada waktu itu amat susah di dapat. Pada awalnya pemuda-pemuda ini tidak tertarik dengan optimisme musik ska. Pemuda-pemuda tersebut menciptakan identitas kelompok sebagai 'Rude Boy' (sebuah trend dikalangan pemuda yang pernah terjadi pada periode awal tahun 40'an). Menjadi 'Rude' artinya menjadi seseorang dimana masyarakat menganggapnya tidak berguna. Gaya dansa ska para Rude Boy memiliki ciri khas tersendiri, lebih pelan, dengan tingkah seakan-akan meninju seseorang. Rude Boy memiliki koneksitas dengan 'Scofflaws'(orang-orang yang selalu menentang hukum) & dunia kriminal lainnya. Hal ini terefleksikan dalam lirik-lirik lagu ska. (catatan: gaya penampilan berpakaian Rude Boy yaitu dengan celana panjang yang mengatung hanya semata kaki). Musik ska sekali lagi mengalami perubahan untuk merefleksikan 'Mood of the rude' dengan menambahkan tensi pada permainan bass yang disesuaikan dengan gaya sebelumnya yaitu 'free-walking bass style'.
Banyak yang berbondong-bondong mengadu nasib di kota Kingston untuk memperoleh ketenaran dalam industri musik yang kemudian beralih menjadi penjual ganja ketika gagal & modal makin menipis. Banyak pula yang berkecimpung dalam dunia kriminal (tergambar dalam film 'The Harder They Come' yang diperankan oleh Jimmy Cliff ...film ini dipercaya mengisahkan tentang perjalanan hidup Jimmy Cliff).
Dua partai politik yang ada di Jamaika membentuk banser bersenjata. Opini publik pun mengarah pada penentangan terhadap kelompok Rude Boy & penggunaan senjata api. Peraturan pemilikan senjata api pun ditilik kembali setelah melalui periode dimana kepemilikan senjata diperbolehkan asal tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. Siapa pun yang memiliki senjata api yang ilegal, diancam hukuman penjara seumur hidup. Artis & produser mendukung bahkan 'memaafkan' atas prilaku kelompok Rude Boy melalui musik ska. Dukungan untuk tidak menggunakan senjata api terefleksi dalam lagu-lagu seperti "Lawless street" dari kelompok Soul Brothers, "Gunmen coming to town" The Heptones.
Duke Reid memproduseri salah satu grup ska The Rude Boy (shuffling down Bond street) C.S. Dodd pun ikut memproduseri grup muda yang memiliki visi musik mereka sebagai 'rudies' yaitu kelompok The Wailers ( Bob Marley, Peter Tosh, Bunny Wailer). Prince Buster menemukan seseorang yang memiliki mitos karakter sebagai Rude Boy yaitu Judge Dread. Lagu "007 Shanty Town" yang dinyanyikan oleh Desmond Dekker adalah sebuah karya cemerlang dalam mendokumentasikan perilaku Rude Boy kedalam sebuah lagu (berhasil memasuki urutan tangga lagu ke 14 di UK Charts). Tema rude boy masih mendominasi sepanjang periode ska, dan popularitasnya memuncak sepanjang musim panas tahun 1964. Beat ska menjadi lebih lambat & Rocksteady pun lahir. Gelombang ska pertama berakhir pada tahun 1968 (Rocksteady adalah bagian cerita lain: Rocksteady kemudian melahirkan musik Reggae. Popularitas musik Reggae di Inggris di sebarkan oleh Skinhead; kelompok Rastafarian mengadopsi musik Reggae & lirik-lirik lagunya cenderung bertemakan ajaran Rastafari & pandangan Relijiusnya, Reggae pun berkembang menjadi 'Dub', 'Dancehall', & seterusnya ...& seterusnya ...)
Memasuki gelombang kedua ...sebelumnya marilah kita lihat beberapa sejarah ska lainnya: ditahun 1962, saat di mana Inggris menjanjikan jaminan secara tak terbatas kepada para imigran yang berasal dari negara-negara persemakmurannya, kerusuhan ras pun terjadi. Disaat itu musik ska & Reggae sedang populer. Dibawa dari Jamaika oleh banyak musisi & produser yang ikut berimigrasi, termasuk 'The Trojan' & seorang kelahiran Kuba, Laurel Aitken. Pada tahun 70'an, imej Rude Boy diperbaharui & ter-ekspresi dalam penggabungan 2 jenis musik yang masih tergolong baru di Inggris yaitu Reggae & Punk oleh band The Clash (Rudie can't fail). Antara pertengahan hingga akhir tahun 70'an, band seperti The Coventry Automatics memilih untuk memainkan ska ketimbang Reggae karena menurut Jerry Dammers (pendiri band tersebut), memainkan musik ska lebih mudah & gampang.
The Coventry Automatics merubah namanya menjadi The Specials AKA The Automatics, kemudian berubah lagi menjadi The Specials.
Selanjutnya pada tahun 1979 Jerry Dammers mendirikan 2Tone Records. Keinginan Dammers layaknya seperti Prince Buster di awal tahun 60'an yaitu menciptakan sesuatu yang baru. Hitam & putih menjadi simbol. Lahirlah yang dinamakan dengan 2Tone ska. Logo 2Tone yaitu gambar kartun pria berpakaian jas hitam dengan kemeja putih, dasi hitam, topi 'pork pie', kaca mata hitam, kaus kaki putih & sepatu 'loafers' hitam menjadi logo resmi yang karakternya di beri nama 'Walt Jabsco' (diambil dari nama Walt Disney, pendiri film kartun & Jabsco berarti ganja dalam bahasa slang latin). Diciptakan oleh Dammers sendiri berdasarkan pose Peter Tosh pada sebuah photo awal kelompok The Wailers yang dapat di lihat pada cover album 'The Wailing Wailer Studio One Realease'.
Pada saat kerusuhan ras sedang terjadi, & organisasi rasis 'National Front' sedang tumbuh pesat, pakaian hitam putih & band yang anggota nya terdiri dari multi ras, mengetengahkan lagu-lagu yang bertemakan 'unity' disaat negara tersebut sedang terpecah belah oleh isu rasial. Sama halnya dengan musik ska di Jamaika, situasi yang terjadi pada saat itu terefleksi kedalam lirik lagu, seperti "Racist Friend" The Specials AKA. Band-band seperti Madness, The Beat, The Selecter, The Bodysnatchers & The Specials membuat ska menjadi sesuatu yang segar dengan mengolah nomor-nomor ska klasik dari Prince Buster (Roughrider, Madness, Too hot, dll.) & artis-artis gelombang pertamanya.Band lain yang tidak termasuk 2Tone tetapi berasosiasi dengan gerakan 2Tone adalah Bad Manners. Ada juga persilangan dengan artis gelombang pertama dengan band 2Tone (Rico Rodriguez adalah pemain trombone yang menjadi additional player pada kelompok The Specials, anak murid dari pemain trombone ternama Don Drummond & sering dipakai sebagai musisi studio do Jamaika)
Pada akhirnya Chrysalis Records membeli 2Tone dari Dammers dengan keputusan menandatangani perjanjian kontrak dengan band-band 2Tone lainnya. Termasuk antara lain: The Specials, The Selecter, Madness, Rico Rodriguez, The Swinging Cats, The Friday Club, The Bodysnatchers, The Hisons, JB Allstars, Specials AKA, The Apollonairs, The Beat (di Amerika dikenal dengan nama 'The English Beat' karena sudah ada band yang memakai nama The Beat) & sebuah single dari Elvis Costello. (catatan: single Elvis Costello tersebut berjudul "I can't stand up for falling down" menjadi permasalahan & tidak pernah di jual. Copy lagu tersebut diberikan secara gratis kepada penggemar Costello pada saat pertunjukannya. Costello memproduseri debut album The Specials & menjadi guest singer sekaligus produser untuk single The specials AKA yang berjudul Nelson Mandela 12".
Tahun 1985 2Tone label bubar. Dammers mengalami kebangkrutan terhadap perusahaan Chrysalis. Band-band 2Tone mengalami masa popularitasnya dari tahun1978-1985 walau bagaimanapun bukan hanya 2Tone yang memainkan musik ska. Diantara band-band lainnya adalah The Tigers, Ska City Rockers, The Akrylykz (dengan Roland Gift pada tenor sax, yang kemudian bergabung bersama mantan anggota The English Beat Cox, & Steele yang belakangan menjadi penyanyi di Fine Young Cannibals), The Employees, The Piranhas, dan masih banyak lagi ...
Hal tersebut menutup gelombang kedua musik ska ...pada gelombang ketiga: dengan berakhirnya 2Tone & gelombang kedua, musik ska menjadi sempit namun tidak menjadi musik yang usang. Adalah The Toasters (pernah merilis single dibawah nama 'Not Bob Marley'), Bim Skala Bim, The Untouchables & Fishbone yang menjadikan tradisi dalam mencampur beat ska dengan unsur-unsur musik lainnya seperti pop, rock dan beat-beat lainnya.
Keberadaan gelombang ketiga musik ska terdiri dari berbagai bentuk dengan mengkombinasikan hampir setiap jenis musik yang kira-kira dapat dikawinkan dengan irama ska. Band-band seperti Jump With Joey, Hepcat, Yebo, NY Ska Jazz Ensemble & Stubborn Allstars tetap bermain pada akar ska Jamaika. Operation Ivy, Voodoo Glow Skulls, Mighty Mighty Bosstones, dll. Menggunakan energi punk untuk menciptakan ska-core. Regatta 69, Fillibuster, Urban Blight, dll. Tetap bertahan pada corak Reggae/Rocksteady beat. Punch The Clown, Undercover S.K.A., dll. Mencirikan pengaruh dari gaya 2Tone. Yang menarik adalah band asal Florida, Pork Pie Tribes menggabungkan beat ska dengan musik tradisional Irlandia. Hal lain yang lebih menarik adalah grup band The Brownies yang mencampurkan ska dengan apa saja !!
Imej Rude Boy/Rude Girl hadir kembali pada gelombang ketiga, namun kali ini tidak sebagai pemberontak. Tetapi sebagai suporter yang fanatik dengan musik ska.
Digelombang ketiga ini juga terdapat hal-hal yang tidak pernah ada pada awal gelombang pertama (beberapa diantaranya ada yang tidak pernah di mengerti) seperti 'Straight Edge' dengan logo 'X' ditangan, boneheads, OI/SKA, Skinhead Against Racial Prejudiced (SHARP's) juga konsep-konsep 'sell outs'. Ada beberapa aspek diantaranya yang belum berubah: ska masih menjadi musik kalangan remaja, setiap pertunjukan ska dapat disaksikan oleh segala umur & tidak terlalu mahal untuk mengakomodasikannya. Disamping itu juga ska masih membentuk beat yang unik & harmonis walaupun digabungkan dengan unsur-unsur musik lainnya. & orang-orang pun masih banyak yang menikmatinya.
Diposting oleh Japro di Kamis, April 10, 2008 1 komentar
Label: artikel, berita, hiburan, musik, rude boy, sejarah, ska